049 Al-Hujurat (1960-an @ Kaherah)

Meskipun Islam telah memberikan garis bahwasanya orang yang paling mulia di sisi Allah ialah orang-orang yang paling taqwa kepada Allah, bukanlah berarti bahwa budi pekerti dan sopan santun tidak termasuk dalam perlengkapan taqwa. Samalah keadaannya dengan kita di zaman modern ini, yang kerap kali disebutkan zaman demokrasi. Bukanlah berarti bahwa dengan sebab kita telah hidup berdemokrasi, bahwa orang orang boleh saja tidak berlaku hormat di antara sesamanya. Bukanlah berarti bahwa yang muda tidak lagi menghormati yang tua dan yang tua tidak lagi berkasih sayang kepada yang muda. Barulah tegak demokrasi itu dengan halusnya apabila kita pandai meletakkan sesuatu pada tempatnya. – Prof Dr Hamka (Tafsir Al-Azhar, Juzu’ ke-26 (Yayasan Latimojong, 1982), m.s. 212).

بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تُقَدِّمُوا۟ بَيْنَ يَدَىِ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌۭ
Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya, dan taqwalah kepada Allah; Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar, lagi Maha Mengetahui.
(49 : 1)

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَرْفَعُوٓا۟ أَصْوَٰتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ ٱلنَّبِىِّ وَلَا تَجْهَرُوا۟ لَهُۥ بِٱلْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَن تَحْبَطَ أَعْمَٰلُكُمْ وَأَنتُمْ لَا تَشْعُرُونَ
Wahai orang-orang yang beriman. janganlah kamu mengangkat suaramu mengatasi suara Nabi dan janganlah kamu berkeras kepadanya dengan kata-kata, sebagaimana berkerasnya setengah kamu dengan yang setengah, bahwa akan menghapuskan amalan kamu, sedang kamu tidaklah menyadari.
(49 : 2)

إِنَّ ٱلَّذِينَ يَغُضُّونَ أَصْوَٰتَهُمْ عِندَ رَسُولِ ٱللَّهِ أُو۟لَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ ٱمْتَحَنَ ٱللَّهُ قُلُوبَهُمْ لِلتَّقْوَىٰ ۚ لَهُم مَّغْفِرَةٌۭ وَأَجْرٌ عَظِيمٌ
Sesungguhnya orang-orang yang merendahkan suara mereka di sisi Rasulullah, itulah orang-orang yang diuji Allah hati mereka untuk bertaqwa. Baru mereka adalah ampunan dan pahala yang besar.
(49 : 3)

إِنَّ ٱلَّذِينَ يُنَادُونَكَ مِن وَرَآءِ ٱلْحُجُرَٰتِ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ
Sesungguhnya orang-orang yang memanggil-manggil engkau dari belakang bilik-bilik, kebanyakan mereka itu tidaklah mempergunakan akalnya.
(49 : 4)

وَلَوْ أَنَّهُمْ صَبَرُوا۟ حَتَّىٰ تَخْرُجَ إِلَيْهِمْ لَكَانَ خَيْرًۭا لَّهُمْ ۚ وَٱللَّهُ غَفُورٌۭ رَّحِيمٌۭ
Dan kalaulah mereka itu bersabar sehingga engkau keluar kepada mereka, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi mereka. Dan Allah adalah Maha Pengampun, lagi Penyayang.
(49 : 5)

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِن جَآءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَإٍۢ فَتَبَيَّنُوٓا۟ أَن تُصِيبُوا۟ قَوْمًۢا بِجَهَٰلَةٍۢ فَتُصْبِحُوا۟ عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَٰدِمِينَ
Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepada kamu orang yang fasiq membawa berita, maka selidikilah, agar kamu tidak menimpakan sesuatu mushibah kepada suatu kaum dengan tidak mengetahui, maka jadilah kamu menyesal atas perbuatanmu itu.
(49 : 6)

Ayat ini jelas sekali, memberikan larangan yang sekeras-kerasnya lekas percaya kepada berita yang dibawa oleh seorang yang fasiq, memburukkan seseorang atau suatu kaum. Janganlah perkara itu langsung saja diyakan atau ditidakkan, melainkan diselidikilah terlebih dahulu dengan seksama sekali benar atau tidaknya. Jangan sampai karena terburu menjatuhkan keputusan yang buruk atas suatu perkara, sehingga orang yang diberitakan itu telah mendapat hukuman, padahal kemudian ternyata bahwa tidak ada sama sekali salahnya dalam perkara yang diberitakan orang itu. – Prof Dr Hamka, mengulas ayat 6 (Tafsir Al-Azhar, Juzu’ ke-26 (Yayasan Latimojong, 1982), m.s. 223)

وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّ فِيكُمْ رَسُولَ ٱللَّهِ ۚ لَوْ يُطِيعُكُمْ فِى كَثِيرٍۢ مِّنَ ٱلْأَمْرِ لَعَنِتُّمْ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ ٱلْإِيمَٰنَ وَزَيَّنَهُۥ فِى قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ ٱلْكُفْرَ وَٱلْفُسُوقَ وَٱلْعِصْيَانَ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلرَّٰشِدُونَ
Dan ketahuilah olehmu bahwasanya pada kamu ada Rasulullah, yang jikalau beliau ikuti saja kepada kamu pada kebanyakan daripada urusan, niscaya akan sulitlah kamu. Tetapi Allah telah menyebabkan timbul cinta kamu kepada Iman dan Dia hiaskan akan dia dalam hati kemudian ditimbulkannya benci kamu kepada kufur dan fasiq dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang menempuh jalan yang bijak.
(49 : 7)

فَضْلًۭا مِّنَ ٱللَّهِ وَنِعْمَةًۭ ۚ وَٱللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌۭ
Kurnia daripada Allah dan nikmat, dan Allah adalah maha Mengetahui, Maha Bijaksana.
(49 : 8)

وَإِن طَآئِفَتَانِ مِنَ ٱلْمُؤْمِنِينَ ٱقْتَتَلُوا۟ فَأَصْلِحُوا۟ بَيْنَهُمَا ۖ فَإِنۢ بَغَتْ إِحْدَىٰهُمَا عَلَى ٱلْأُخْرَىٰ فَقَٰتِلُوا۟ ٱلَّتِى تَبْغِى حَتَّىٰ تَفِىٓءَ إِلَىٰٓ أَمْرِ ٱللَّهِ ۚ فَإِن فَآءَتْ فَأَصْلِحُوا۟ بَيْنَهُمَا بِٱلْعَدْلِ وَأَقْسِطُوٓا۟ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُقْسِطِينَ
Dan jika dua golongan dari orang yang beriman berperang, maka damaikanlah di antara keduanya. Maka jika menganiaya salah satu golongan itu kepada yang lain, perangilah yang menganiaya itu sehingga dia kembali kepada perintah Allah; Maka jika dia telah kembali, hendaklah damaikan di antara keduanya dengan adil. Dan berlaku adillah. Sesungguhnya Allah adalah amat suka kepada orang-orang yang berlaku adil.
(49 : 9)

إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌۭ فَأَصْلِحُوا۟ بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
Hanyasanya orang-orang yang beriman itu seyogianya adalah bersaudara; karena itu maka damaikanlah di antara kedua saudaramu dan taqwalah kepada Allah; supaya kamu diberi Rahmat.
(49 : 10)

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا يَسْخَرْ قَوْمٌۭ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُونُوا۟ خَيْرًۭا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَآءٌۭ مِّن نِّسَآءٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُنَّ خَيْرًۭا مِّنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا۟ بِٱلْأَلْقَٰبِ ۖ بِئْسَ ٱلِٱسْمُ ٱلْفُسُوقُ بَعْدَ ٱلْإِيمَٰنِ ۚ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ
Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokkan kaum yang lain; boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokkan itu), dan jangan pula wanita-wanita mengolok-olokkan kepada wanita yang lain, karena boleh jadi (yang diperolok-olokkan itu) lebih baik dari yang mengolok-olokkan; dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil-memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah panggilan nama yang fasiq sesudah iman; Dan barangsiapa yang tiada taubat, maka itulah orang-orang yang aniaya.
(49 : 11)

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱجْتَنِبُوا۟ كَثِيرًۭا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ ٱلظَّنِّ إِثْمٌۭ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا۟ وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًۭا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٌۭ رَّحِيمٌۭ
Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan daripada prasangka, karena sesungguhnya sebagian daripada prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang dan janganlah menggunjing setengah kamu akan yang setengah. Apakah suka seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka jijiklah kamu kepadanya! Dan taqwalah kepada Allah; Sesungguhnya Allah adalah Penerima Taubat, lagi Maha Penyayang.
(49 : 12)

Memakan bangkai temanmu yang telah mati sudah pasti engkau jijik. Maka membicarakan aib celanya sedang saudara itu tidak ada samalah artinya dengan memakan bangkainya. Kalau ada sececah iman dalam hatimu, tentu engkau percaya apa yang disabdakan Tuhan. Sebab itu tentu engkau pun akan merasa jijik pula berbuat perangai yang hina yang pengecut itu, yaitu:
“Elok umbutnya pandan singkil,
Dilipat lalu diperkalang;
Manis mulutnya sehingga bibir,
Hatinya bulat membelakang.
– Prof Dr Hamka, mengulas ayat 12 (Tafsir Al-Azhar, Juzu’ ke-26 (Yayasan Latimojong, 1982), m.s. 243)

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَٰكُم مِّن ذَكَرٍۢ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَٰكُمْ شُعُوبًۭا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓا۟ ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌۭ
Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, supaya kenal mengenallah kamu. Sesungguhnya yang semulia-mulia kamu di sisi Allah ialah yang setaqwa-taqwa kamu; Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui, lagi Maha Mengenal.
(49 : 13)

Ujung ayat ini, kalau kita perhatikan dengan seksama adalah jadi peringatan lebih dalam lagi bagi manusia yang silau matanya karena terpesona oleh urusan kebangsaan dan kesukuan, sehingga mereka lupa bahwa keduanya itu gunanya bukan untuk membanggakan suatu bangsa kepada bangsa yang lain, suatu suku kepada suku yang lain. Kita di dunia bukan buat bermusuhan, melainkan buat berkenalan. Dan hidup berbangsa-bangsa, bersuku-suku bisa saja menimbulkan permusuhan dan peperangan, karena orang telah lupa kepada nilai ketaqwaan. – Prof Dr Hamka, mengulas ayat 13 (Tafsir Al-Azhar, Juzu’ ke-26 (Yayasan Latimojong, 1982), m.s. 246).

قَالَتِ ٱلْأَعْرَابُ ءَامَنَّا ۖ قُل لَّمْ تُؤْمِنُوا۟ وَلَٰكِن قُولُوٓا۟ أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ ٱلْإِيمَٰنُ فِى قُلُوبِكُمْ ۖ وَإِن تُطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ لَا يَلِتْكُم مِّنْ أَعْمَٰلِكُمْ شَيْـًٔا ۚ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌۭ رَّحِيمٌ
Orang-orang Arab dusun itu berkata: "Kami telah beriman!" Katakanlah: "Kamu belum beriman, tetapi sebutkan sajalah "Kami telah Islam", karena belumlah masuk iman itu ke dalam hatimu! Dan jikalau kamu mentaati Allah dan Rasul-Nya tidaklah Dia akan mengurangi dari amalan kamu itu sedikit pun; Sesungguhnya Allah itu adalah Maha Pengampun, Maha Penyayang.
(49 : 14)

إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا۟ وَجَٰهَدُوا۟ بِأَمْوَٰلِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلصَّٰدِقُونَ
Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian itu mereka pun tidak merasa ragu-ragu, dan mereka berjuang dengan harta benda mereka dan diri mereka sendiri pada jalan Allah; Mereka itulah orang-orang yang jujur.
(49 : 15)

قُلْ أَتُعَلِّمُونَ ٱللَّهَ بِدِينِكُمْ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ مَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلْأَرْضِ ۚ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌۭ
Katakanlah: "Apakah kamu akan memberitahukan kepada Allah tentang agama kamu? Padahal Allah Mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi; Dan Dia atas tiap-tiap sesuatu adalah Maha Tahu!
(49 : 16)

يَمُنُّونَ عَلَيْكَ أَنْ أَسْلَمُوا۟ ۖ قُل لَّا تَمُنُّوا۟ عَلَىَّ إِسْلَٰمَكُم ۖ بَلِ ٱللَّهُ يَمُنُّ عَلَيْكُمْ أَنْ هَدَىٰكُمْ لِلْإِيمَٰنِ إِن كُنتُمْ صَٰدِقِينَ
Mereka membanggakan kepada kamu karena mereka telah Islam. Katakanlah: "Janganlah kamu banggakan kepadaku keislamanmu itu. Bahkan Allah-lah yang telah menganugerahi atas kamu, karena Dia telah memberimu hidayat dengan iman. Jika adalah kamu semuanya benar-benar jujur.
(49 : 17)

إِنَّ ٱللَّهَ يَعْلَمُ غَيْبَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۚ وَٱللَّهُ بَصِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui akan kegaiban semua langit dan bumi dan Allah benar-benar Melihat apa jua pun yang kamu amalkan.
(49 : 18)

Peringatan begini sebagai penutup Surat adalah peringatan mendidik manusia agar berlaku ikhlas dalam beramal, menyamakan lahir dengan bathinnya, jangan berbeda yang di luar dengan yang di dalam. Sebab keikhlasan itu jualah yang akan membuat langkah hidup manusia jadi lurus, tujuannya jadi tepat, tidak berliku-liku, apa yang dinamai orang zaman sekarang dengan plintat-plintut. Dan dengan menginsafi bahwa Tuhan mengetahui apa yang nyata dan apa yang tersembunyi itu, manusia pun berani melangkahkan kakinya, tidak merasakan ragu-ragu. Dan ini hanya dapat dengan kuatnya iman dan yakinnya hati dan sikap hidup yang selalu waspada, yang dapat diartikan dengan TAQWA. – Prof Dr Hamka, mengulas ayat-ayat terakhir surah ini (Tafsir Al-Azhar, Juzu’ ke-26 (Yayasan Latimojong, 1982), m.s. 255).

Sumber Rakaman: Union Records – UM 9
Gambar Hiasan: Gerd Altmann dari Pixabay