Ranau (Kinabalu), Sabah, Malaysia

042 As-Shura (1960-an)

بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ حمٓ
Haa - Miim.
(42 : 1)

عٓسٓقٓ
'Ain - Sin - Qaaf: Hanya Allah dan RasulNya yang lebih tahu arti dan maknanya.
(42 : 2)

كَذَٰلِكَ يُوحِىٓ إِلَيْكَ وَإِلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكَ ٱللَّهُ ٱلْعَزِيزُ ٱلْحَكِيمُ
Demikianlah mewahyukan kepada engkau dan kepada mereka yang sebelum engkau, Allah Yang Maha Gagah, Maha Bijaksana.
(42 : 3)

لَهُۥ مَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلْأَرْضِ ۖ وَهُوَ ٱلْعَلِىُّ ٱلْعَظِيمُ
KepunyaanNya apa yang ada di semua langit dan apa yang di bumi dan Dia adalah Maha Tinggi, Maha Agung.
(42 : 4)

تَكَادُ ٱلسَّمَٰوَٰتُ يَتَفَطَّرْنَ مِن فَوْقِهِنَّ ۚ وَٱلْمَلَٰٓئِكَةُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِمَن فِى ٱلْأَرْضِ ۗ أَلَآ إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ
Nyarislah semua langit itu terbelah dari sebelah atasnya, sedang malaikat-malaikat bertasbih dengan memuji Tuhan mereka dan memohonkan ampunan untuk orang yang di bumi. Ketahuilah, sesungguhnya Allah, Dia Maha Pengampun, Maha Penyayang.
(42 : 5)

وَٱلَّذِينَ ٱتَّخَذُوا۟ مِن دُونِهِۦٓ أَوْلِيَآءَ ٱللَّهُ حَفِيظٌ عَلَيْهِمْ وَمَآ أَنتَ عَلَيْهِم بِوَكِيلٍۢ
Dan orang-orang yang mengambil selain dari padaNya menjadi pelindung; Allah menjadi pengawas atas mereka, dan tidaklah engkau yang jadi wakil atas mereka.
(42 : 6)

وَكَذَٰلِكَ أَوْحَيْنَآ إِلَيْكَ قُرْءَانًا عَرَبِيًّۭا لِّتُنذِرَ أُمَّ ٱلْقُرَىٰ وَمَنْ حَوْلَهَا وَتُنذِرَ يَوْمَ ٱلْجَمْعِ لَا رَيْبَ فِيهِ ۚ فَرِيقٌۭ فِى ٱلْجَنَّةِ وَفَرِيقٌۭ فِى ٱلسَّعِيرِ
Dan demikianlah telah Kami wahyukan kepada engkau Al-Qur'an Arabi supaya engkau beri peringatan ancaman ibu-negeri dan orang-orang yang sekitarnya dan engkau ancamkan tentang hari berkumpul yang tidak ada ragu-ragu padanya; segolongan ke dalam syurga dan segolongan ke dalam neraka.
(42 : 7)

وَلَوْ شَآءَ ٱللَّهُ لَجَعَلَهُمْ أُمَّةًۭ وَٰحِدَةًۭ وَلَٰكِن يُدْخِلُ مَن يَشَآءُ فِى رَحْمَتِهِۦ ۚ وَٱلظَّٰلِمُونَ مَا لَهُم مِّن وَلِىٍّۢ وَلَا نَصِيرٍ
Dan jika Allah menghendaki, niscaya telah dijadikanNya mereka ummat yang satu. tetapi dimasukkanNya barangsiapa yang dikehendakiNya ke dalam rahmatNya. Sedang orang-orang yang zalim tidak ada bagi mereka pelindung, dan tidak penolong.
(42 : 8)

(Petikan Tafsir Ayat 8) Allah memperlihatkan hikmat kebijaksanaanNya yang tertinggi, Dia Maha Kuasa, Dia bisa menjadikan ummat manusia jadi ummat yang satu. Tetapi kalau itu terjadi, kendorlah perjuangan manusia untuk memperjuangkan kebenaran. Kalau semua sudah benar saja, tidak ada yang salah, tidaklah dapat lagi manusia mencari perbandingan. – Prof Dr Hamka (Tafsir Al-Azhar (H. Abdul Karim), Juzu’ ke-25, m.s. 22)


أَمِ ٱتَّخَذُوا۟ مِن دُونِهِۦٓ أَوْلِيَآءَ ۖ فَٱللَّهُ هُوَ ٱلْوَلِىُّ وَهُوَ يُحْىِ ٱلْمَوْتَىٰ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍۢ قَدِيرٌۭ
Atau apakah mereka mengambil selain Dia menjadi pelindung? Maka Allah itulah Pelindung. Dan Dialah yang menghidupkan orang yang telah mati. Dan Dia atas tiap-tiap sesuatu Maha Kuasa.
(42 : 9)

وَمَا ٱخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِن شَىْءٍۢ فَحُكْمُهُۥٓ إِلَى ٱللَّهِ ۚ ذَٰلِكُمُ ٱللَّهُ رَبِّى عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ
Dan apa jua pun yang kamu perselisihkan padanya, maka hukumnya adalah pada Allah. Demikian itulah Allah, Tuhanku. KepadaNyalah aku bertawakkal dan kepadaNya aku akan kembali.
(42 : 10)

فَاطِرُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۚ جَعَلَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَٰجًۭا وَمِنَ ٱلْأَنْعَٰمِ أَزْوَٰجًۭا ۖ يَذْرَؤُكُمْ فِيهِ ۚ لَيْسَ كَمِثْلِهِۦ شَىْءٌۭ ۖ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ
Dia yang menciptakan semua langit dan bumi pun. Dia menjadikan untuk kamu dari dirimu sendiri jodoh-jodohan. Dan dari ternak pun berjodoh-jodohan. Dia kembang-biakkan kamu padanya. Tidak suatupun yang menyamai Dia. Dan Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
(42 : 11)

لَهُۥ مَقَالِيدُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۖ يَبْسُطُ ٱلرِّزْقَ لِمَن يَشَآءُ وَيَقْدِرُ ۚ إِنَّهُۥ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌۭ
KepunyaanNya kunci-kunci dari semua langit dan bumi. DilapangkanNya rezeki bagi siapa yang dikehendakiNya dan disempitkanNya. Sesungguhnya Dia atas tiap-tiap sesuatu Maha Mengetahui.
(42 : 12)

شَرَعَ لَكُم مِّنَ ٱلدِّينِ مَا وَصَّىٰ بِهِۦ نُوحًۭا وَٱلَّذِىٓ أَوْحَيْنَآ إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِۦٓ إِبْرَٰهِيمَ وَمُوسَىٰ وَعِيسَىٰٓ ۖ أَنْ أَقِيمُوا۟ ٱلدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا۟ فِيهِ ۚ كَبُرَ عَلَى ٱلْمُشْرِكِينَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ ۚ ٱللَّهُ يَجْتَبِىٓ إِلَيْهِ مَن يَشَآءُ وَيَهْدِىٓ إِلَيْهِ مَن يُنِيبُ
Dia telah gariskan bagi kamu perihal agama, apa yang diwajibkanNya kepada Nuh dan yang Kami telah wajibkan kepada engkau dan apa yang telah Kami wajibkan dia kepada Ibrahim dan Musa dan Isa (yaitu) bahwa kamu tegakkan agama dan jangan kamu bercerai berai padanya. Amat berat atas orang musyrikin apa yang engkau ajak mereka kepadanya. Allah, Dia memilih buat itu siapa yang dikehendakiNya dan diberiNya petunjuk siapa yang kembali kepadaNya.
(42 : 13)

وَمَا تَفَرَّقُوٓا۟ إِلَّا مِنۢ بَعْدِ مَا جَآءَهُمُ ٱلْعِلْمُ بَغْيًۢا بَيْنَهُمْ ۚ وَلَوْلَا كَلِمَةٌۭ سَبَقَتْ مِن رَّبِّكَ إِلَىٰٓ أَجَلٍۢ مُّسَمًّۭى لَّقُضِىَ بَيْنَهُمْ ۚ وَإِنَّ ٱلَّذِينَ أُورِثُوا۟ ٱلْكِتَٰبَ مِنۢ بَعْدِهِمْ لَفِى شَكٍّۢ مِّنْهُ مُرِيبٍۢ
Dan tidaklah mereka bercerai berai melainkan sesudah datang kepada mereka pengetahuan, lantaran kedengkian di antara mereka. Dan kalau bukanlah kalimat yang terdahulu dari Tuhan engkau, sampai suatu waktu yang telah ditentukan, niscaya telah di hukum di antara mereka. Dan sesungguhnya orang-orang yang diwarisi kitab sesudah mereka itu, adalah di dalam keragu-raguan dari padanya, lagi bimbang.
(42 : 14)

فَلِذَٰلِكَ فَٱدْعُ ۖ وَٱسْتَقِمْ كَمَآ أُمِرْتَ ۖ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَآءَهُمْ ۖ وَقُلْ ءَامَنتُ بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ مِن كِتَٰبٍۢ ۖ وَأُمِرْتُ لِأَعْدِلَ بَيْنَكُمُ ۖ ٱللَّهُ رَبُّنَا وَرَبُّكُمْ ۖ لَنَآ أَعْمَٰلُنَا وَلَكُمْ أَعْمَٰلُكُمْ ۖ لَا حُجَّةَ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ ۖ ٱللَّهُ يَجْمَعُ بَيْنَنَا ۖ وَإِلَيْهِ ٱلْمَصِيرُ
Karena demikian, maka ajaklah dan berdirilah teguh sebagaimana yang diperintahkan kepadamu dan jangan engkau ikuti hawa nafsu mereka, katakanlah: "Aku percaya kepada apa yang diturunkan Allah dari kitab, dan aku diperintah supaya berlaku adil di antara kamu. Allah adalah Tuhan kami dan Tuhan kamu. Bagi kami amalan-amalan kami dan bagi kamu amalan-amalan kamu. Tidak ada pertengkaran di antara kami dengan kamu. Allah akan mengumpulkan di antara kita, dan kepadaNyalah tempat kembali.
(42 : 15)

وَٱلَّذِينَ يُحَآجُّونَ فِى ٱللَّهِ مِنۢ بَعْدِ مَا ٱسْتُجِيبَ لَهُۥ حُجَّتُهُمْ دَاحِضَةٌ عِندَ رَبِّهِمْ وَعَلَيْهِمْ غَضَبٌۭ وَلَهُمْ عَذَابٌۭ شَدِيدٌ
Dan orang-orang yang membantah kepada Allah sesudah diterimakan baginya, bantahan mereka tidak ada gunanya di sisi Tuhan mereka. Dan ke atas mereka kemurkaan, dan bagi mereka azab yang sangat.
(42 : 16)

ٱللَّهُ ٱلَّذِىٓ أَنزَلَ ٱلْكِتَٰبَ بِٱلْحَقِّ وَٱلْمِيزَانَ ۗ وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّ ٱلسَّاعَةَ قَرِيبٌۭ
Allah-lah yang menurunkan kitab dengan kebenaran dan neraca. Dan engkau tidak tahu, barangkali sa'at itu sudah dekat.
(42 : 17)

يَسْتَعْجِلُ بِهَا ٱلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِهَا ۖ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مُشْفِقُونَ مِنْهَا وَيَعْلَمُونَ أَنَّهَا ٱلْحَقُّ ۗ أَلَآ إِنَّ ٱلَّذِينَ يُمَارُونَ فِى ٱلسَّاعَةِ لَفِى ضَلَٰلٍۭ بَعِيدٍ
Meminta cepat kedatangannya orang-orang yang tidak beriman kepadanya. Tetapi orang-orang yang beriman merasa takut dari padanya dan mereka tahu bahawasanya dia itu sebenarnya. Ketahuilah sesungguhnya orang-orang yang membantah tentang Sa'at itu, adalah di dalam kesesatan yang jauh.
(42 : 18)

ٱللَّهُ لَطِيفٌۢ بِعِبَادِهِۦ يَرْزُقُ مَن يَشَآءُ ۖ وَهُوَ ٱلْقَوِىُّ ٱلْعَزِيزُ
Allah amat lemah-lembut kepada hamba-hambaNya, diberiNya rezki, barangsiapa yang dikehendakiNya. Dan Dia adalah Yang Maha Kuat, dan Yang Maha Gagah.
(42 : 19)

(Petikan Tafsir Ayat 19) Apabila setiap hari ini kita memakan dan meminum rezeki yang diberikanNya, hidup senang, harta ada, pangkat, kebesaran dan lain-lain, terasalah betapa lemah-lembutNya Tuhan terhadap hamba-hambaNya. Kita girang, kita tertawa. Tetapi Dia Maha Kuat; karena apabila nikmat itu hendak dicabutNya, sedikitpun kita tidak dapat bertahan. Umur berjalan terus, dari muda terus ke tua, dan akhirnya mati. Dihitung-hitung masa yang dilalui, rupanya hanya sebentar saja. Kita rasakan kejadian 20 tahun yang lalu, baru rasa kemarin. Sedang yang akan ditempuh masih lama rasanya. Sebelum merasa kepuasan, air kehidupanpun habis. Kita hidup di antara sifat Ilahi. “Al Lathif” dengan “al Qawi dan al Aziz”. Di antara kurnia lemah-lembutNya dengan Kuat Gagahnya. Kita akan terombang-ambing dalam hidup kalau kita lupa “Al Qawi dan Al Aziz” karena menikmati “Al Lathif”. Moga-moga dapatlah kita mencamkannya dalam hati, setiap hari. – Prof Dr Hamka (Tafsir Al-Azhar (H. Abdul Karim), Juzu’ ke-25, m.s. 30)


مَن كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ ٱلْءَاخِرَةِ نَزِدْ لَهُۥ فِى حَرْثِهِۦ ۖ وَمَن كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ ٱلدُّنْيَا نُؤْتِهِۦ مِنْهَا وَمَا لَهُۥ فِى ٱلْءَاخِرَةِ مِن نَّصِيبٍ
Barangsiapa yang menginginkan kebun akhirat, akan Kami tambah untuknya perkebunannya. Dan barangsiapa yang menginginkan kebun dunia, akan Kami berikan kepadanya sebahagian dari padanya; tetapi tidaklah ada baginya di akhirat pembagian apa-apa.
(42 : 20)

أَمْ لَهُمْ شُرَكَٰٓؤُا۟ شَرَعُوا۟ لَهُم مِّنَ ٱلدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنۢ بِهِ ٱللَّهُ ۚ وَلَوْلَا كَلِمَةُ ٱلْفَصْلِ لَقُضِىَ بَيْنَهُمْ ۗ وَإِنَّ ٱلظَّٰلِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌۭ
Atau adakah bagi mereka sekutu-sekutu yang menggariskan untuk mereka dari satu agama, sesuatu yang tidak diizinkan Allah? Dan kalau tidaklah karena kalimat yang telah digariskan, niscaya telah diberi keputusan di antara mereka. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu, bagi mereka adalah azab yang pedih.
(42 : 21)

تَرَى ٱلظَّٰلِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا كَسَبُوا۟ وَهُوَ وَاقِعٌۢ بِهِمْ ۗ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ فِى رَوْضَاتِ ٱلْجَنَّاتِ ۖ لَهُم مَّا يَشَآءُونَ عِندَ رَبِّهِمْ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلْفَضْلُ ٱلْكَبِيرُ
Akan engkau lihat kelak orang-orang yang zalim itu ketakutan, lantaran apa yang pernah mereka usahakan, sedang dianya akan menimpa mereka. Dan orang-orang yang beriman dan beramal yang shalih-shalih akan berada di taman-taman yang amat subur di syurga; untuk mereka apa yang mereka kehendaki di sisi Tuhan mereka. Itulah kiranya yang besar.
(42 : 22)

ذَٰلِكَ ٱلَّذِى يُبَشِّرُ ٱللَّهُ عِبَادَهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ۗ قُل لَّآ أَسْـَٔلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِلَّا ٱلْمَوَدَّةَ فِى ٱلْقُرْبَىٰ ۗ وَمَن يَقْتَرِفْ حَسَنَةًۭ نَّزِدْ لَهُۥ فِيهَا حُسْنًا ۚ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌۭ شَكُورٌ
Yang demikianlah warta gembira ALlah kepada hamba-hambaNya yang beriman dan beramal yang shalih-shalih. Katakanlah: "Tidaklah aku meminta upah kepada kamu atasNya, hanyalah kasih-sayang lantaran kekurangan belaka. Dan barangsiapa mengerjakan kebajikan, akan Kami tambah padanya kebajikan itu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun, menerima kasih.
(42 : 23)

أَمْ يَقُولُونَ ٱفْتَرَىٰ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبًۭا ۖ فَإِن يَشَإِ ٱللَّهُ يَخْتِمْ عَلَىٰ قَلْبِكَ ۗ وَيَمْحُ ٱللَّهُ ٱلْبَٰطِلَ وَيُحِقُّ ٱلْحَقَّ بِكَلِمَٰتِهِۦٓ ۚ إِنَّهُۥ عَلِيمٌۢ بِذَاتِ ٱلصُّدُورِ
Atau akan berkatalah mereka: "Dia itu berbuat-buat dusta atas nama Allah". Sebab itu jika Allah menghendaki, niscaya akan dicapNya hatimu, dan akan dihapusNya yang bathil, dan akan dibuktikanNya kebenaran dengan firman-firmanNya. Sesungguhnya Dia mengetahui akan sisi sekalian dada.
(42 : 24)

وَهُوَ ٱلَّذِى يَقْبَلُ ٱلتَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِۦ وَيَعْفُوا۟ عَنِ ٱلسَّيِّـَٔاتِ وَيَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ
Dan Dialah yang menerima taubat dari hamba-hambaNya. Dan diberi maafNya kejahatan-kejahatan dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan.
(42 : 25)

وَيَسْتَجِيبُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَيَزِيدُهُم مِّن فَضْلِهِۦ ۚ وَٱلْكَٰفِرُونَ لَهُمْ عَذَابٌۭ شَدِيدٌۭ
Dan diperkenankannya orang-orang yang beriman dan beramal yang shalih-shalih, dan diberiNya tambahan bagi yang dikaruniaiNya. Dan orang-orang yang kafir, bagi mereka adalah azab yang sangat.
(42 : 26)

وَلَوْ بَسَطَ ٱللَّهُ ٱلرِّزْقَ لِعِبَادِهِۦ لَبَغَوْا۟ فِى ٱلْأَرْضِ وَلَٰكِن يُنَزِّلُ بِقَدَرٍۢ مَّا يَشَآءُ ۚ إِنَّهُۥ بِعِبَادِهِۦ خَبِيرٌۢ بَصِيرٌۭ
Dan jikalau dilapangkan Allah rezeki bagi hamba-hambaNya, niscaya mereka akan berbuat semau-maunya di bumi. Tetapi diturunkanNya dengan ukuran apa yang dikehendakiNya. Sesungguhnya Dia terhadap hamba-hambaNya Maha Teliti, Maha Melihat.
(42 : 27)

وَهُوَ ٱلَّذِى يُنَزِّلُ ٱلْغَيْثَ مِنۢ بَعْدِ مَا قَنَطُوا۟ وَيَنشُرُ رَحْمَتَهُۥ ۚ وَهُوَ ٱلْوَلِىُّ ٱلْحَمِيدُ
Dan Dialah yang menurunkan hujan sesudah mereka putus harapan, ditabarkanNya rahmatNya. Dan Dia adalah Pelindung, Yang Maha Terpuji.
(42 : 28)

وَمِنْ ءَايَٰتِهِۦ خَلْقُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَمَا بَثَّ فِيهِمَا مِن دَآبَّةٍۢ ۚ وَهُوَ عَلَىٰ جَمْعِهِمْ إِذَا يَشَآءُ قَدِيرٌۭ
Dan setengah dari ayat-ayatNya ialah kejadian semua langit dan bumi dan apa-apa yang ditebarkanNya pada keduanya dari makhluk melata. Dan Dia, atas mengumpulkan mereka, jika dikehendakiNya, adalah Maha Kuasa.
(42 : 29)

وَمَآ أَصَٰبَكُم مِّن مُّصِيبَةٍۢ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُوا۟ عَن كَثِيرٍۢ
Dan apa juapun yang menimpa kepada dirimu sesuatu malapetaka, maka itu adalah dari usaha tanganmu sendiri. Padahal dimaafkanNya sebahagian banyak.
(42 : 30)

(Petikan Tafsir Ayat 30) Ayat ini adalah satu peringatan bahwa apabila suatu malapetaka datang menimpa, janganlah segera menyalahkan orang lain, apatah lagi menyalahkan Tuhan. Periksailah diri sendiri. Manusia memang selalu lalai memperhitungkan bahwa dia bersalah. Setelah datang malapetaka dengan tiba-tiba dia jadi bingung, lalu menyalahkan orang lain. Atau menyalahkan taqdir. Kadang-kadang kesalahan yang paling besar ialah lupa kepada Tuhan, sehingga malapetaka yang tadinya bisa menjadi cobaan peneguh iman, menjadi satu sengsara yang amat berat, tidak terpikul oleh jiwa, karena jiwa tidak ada pegangan. Oleh sebab itu maka percaya kepada taqdir buruk dan baik, bahagia dan bahaya, gembira dan sengsara, beruntung dan rugi, dijadikan rukun yang keenam dari Iman. Apa yang tertulis mesti terjadi. Kadang-kadang musibah itu didatangkan Allah dengan memakai tangan manusia, dan kita yakin benar bahwa kita tidak bersalah. Mungkin engkau tidak bersalah dalam hal yang dituduhkan manusia lain kepadamu. Tetapi kalau kita mengoreksi diri, barangkali kita bersalah kepada Tuhan dalam hal lain, misalnya takabbur, riya dalam mengerjakan ibadat, lalu kita ditimpa malapetaka dari jalan lain, supaya kita bertaubat. Bukankah Nabi kita sendiri menyuruh kita setelah habis selesai sembahyang lima waktu supaya memohon ampun dan taubat? Bukankah bahkan dalam sembahyang itu sendiri, dalam rukuk, dalam sujud, dan dalam duduk di antara dua sujud kita disuruh memohon ampun? Memang ada hadits shahih berbunyi: “Apabila Allah telah mencintai seorang hamba, diberiNya percobaan hamba itu”. Memang! Tetapi periksailah dulu, apakah malapetaka ini suatu peringatan Tuhan karena kita banyak dosa? Atau sudah layakkah kita merasa diri, hamba yang dikasihiNya, lalu dicobai-Nya? Sudah layakkah kita mendapat kehormatan setinggi itu? – Prof Dr Hamka (Tafsir Al-Azhar (H. Abdul Karim), Juzu’ ke-25, m.s. 41)


وَمَآ أَنتُم بِمُعْجِزِينَ فِى ٱلْأَرْضِ ۖ وَمَا لَكُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ مِن وَلِىٍّۢ وَلَا نَصِيرٍۢ
Dan tidaklah kamu bisa melepaskan diri di bumi. Dan tidak ada bagi kamu selain dari Allah, yang menjadi pelindung, dan tidak penolong.
(42 : 31)

وَمِنْ ءَايَٰتِهِ ٱلْجَوَارِ فِى ٱلْبَحْرِ كَٱلْأَعْلَٰمِ
Dan setengah dari tanda-tandaNya ialah kapal-kapal di lautan laksana gunung-gunung.
(42 : 32)

إِن يَشَأْ يُسْكِنِ ٱلرِّيحَ فَيَظْلَلْنَ رَوَاكِدَ عَلَىٰ ظَهْرِهِۦٓ ۚ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَٰتٍۢ لِّكُلِّ صَبَّارٍۢ شَكُورٍ
Jika Dia kehendaki, dimatikanNya angin, maka bertegunanlah dia terkatung-katung dipermukaannya. Sesungguhnya pada yang demikian itu menjadi tanda-tanda bagi yang sabar dan yang syukur.
(42 : 33)

أَوْ يُوبِقْهُنَّ بِمَا كَسَبُوا۟ وَيَعْفُ عَن كَثِيرٍۢ
Atau dibinasakanNya dengan sebab usaha mereka; padahal diampuniNya bahagian yang banyak.
(42 : 34)

وَيَعْلَمَ ٱلَّذِينَ يُجَٰدِلُونَ فِىٓ ءَايَٰتِنَا مَا لَهُم مِّن مَّحِيصٍۢ
Dan supaya tahulah orang-orang yang membantah pada ayat-ayat Kami; mereka tidak mempunyai jalan untuk melepaskan diri.
(42 : 35)

فَمَآ أُوتِيتُم مِّن شَىْءٍۢ فَمَتَٰعُ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا ۖ وَمَا عِندَ ٱللَّهِ خَيْرٌۭ وَأَبْقَىٰ لِلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
Maka apa juapun yang dianugerahkan kepada kamu, maka itu hanyalah bekal hidup di dunia ini saja. Dan apa yang di sisi Allah itulah yang baik, dan lebih kekal, untuk orang-orang yang beriman, dan kepada Tuhan mereka, mereka berserah diri.
(42 : 36)

وَٱلَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَٰٓئِرَ ٱلْإِثْمِ وَٱلْفَوَٰحِشَ وَإِذَا مَا غَضِبُوا۟ هُمْ يَغْفِرُونَ
Dan orang-orang yang menjauhi dosa-dosa yang besar dan yang keji. Dan apabila marah, mereka mengampuni.
(42 : 37)

وَٱلَّذِينَ ٱسْتَجَابُوا۟ لِرَبِّهِمْ وَأَقَامُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَأَمْرُهُمْ شُورَىٰ بَيْنَهُمْ وَمِمَّا رَزَقْنَٰهُمْ يُنفِقُونَ
Dan orang-orang yang menyambut (ajakan) dari Tuhan mereka, dan mereka dirikan sembahyang, sedang urusan-urusan mereka adalah dengan musyawarat di antara mereka, dan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan mereka nafkahkan.
(42 : 38)

(Petikan Tafsir Ayat 38) Ayat ini dengan tegas menjelaskan bahwa hasil iman seseorang itu bukanlah semata-mata untuk dirinya saja. Iman bukan semata-mata hubungan pribadi orang seorang dengan Tuhan. Tetapi disamping dengan Tuhan, imanpun membawa hubungan pribadi dengan urusan bersama yang langsung. Dipangkali dengan sembahyang. Sembahyangnya berjamaah dan berjum’at. Jamaah dan Jum’at, adalah pendasaran bermasyarakat. Masyarakat bertetangga, berteratak, berdusun, berdesa, bermarga, berkampung, berkota dan bernegara. Sendirinya tumbuh urusan bersama, dan dipikul bersama, boleh dinamai demokrasi atau gotong-royong. Dan semua menafkahkan rezeki yang diberikan padanya untuk kepentingan bersama itu. Rezeki adalah umum. Rezeki harta-benda, emas perak, tenaga, fikiran, kepandaian ilmu, keahlian, pengalaman. Semua mau menafkahkan untuk kepentingan bersama. Jadi sembahyang, jamaah, musyawarat dan pengurbanan rezeki dalam satu nafas. – Prof Dr Hamka (Tafsir Al-Azhar (H. Abdul Karim), Juzu’ ke-25, m.s. 47)


وَٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَابَهُمُ ٱلْبَغْىُ هُمْ يَنتَصِرُونَ
Dan bagi orang-orang yang ditimpai penganiayaan, merekapun membalas.
(42 : 39)

وَجَزَٰٓؤُا۟ سَيِّئَةٍۢ سَيِّئَةٌۭ مِّثْلُهَا ۖ فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُۥ عَلَى ٱللَّهِ ۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلظَّٰلِمِينَ
Dan balasan atas satu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal dengan dia. Tetapi barangsiapa yang memberi maaf dan mendamaikan, maka pahalanya ada atas Allah. Sesungguhnya Dia tidaklah suka kepada orang-orang yang zalim.
(42 : 40)

وَلَمَنِ ٱنتَصَرَ بَعْدَ ظُلْمِهِۦ فَأُو۟لَٰٓئِكَ مَا عَلَيْهِم مِّن سَبِيلٍ
Dan sesungguhnya orang yang membalas sesudah teraniaya, maka buat mereka tidak ada jalan buat diapa-apakan.
(42 : 41)

إِنَّمَا ٱلسَّبِيلُ عَلَى ٱلَّذِينَ يَظْلِمُونَ ٱلنَّاسَ وَيَبْغُونَ فِى ٱلْأَرْضِ بِغَيْرِ ٱلْحَقِّ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌۭ
Ada jalan hanyalah terhadap orang-orang yang menganiaya manusia dan berlaku sewenang-wenang di bumi dengan tidak menurut hak. Bagi mereka itu adalah azab yang pedih.
(42 : 42)

وَلَمَن صَبَرَ وَغَفَرَ إِنَّ ذَٰلِكَ لَمِنْ عَزْمِ ٱلْأُمُورِ
Dan sesungguhnya orang-orang yang sabar dan memberi ampun, sesungguhnya yang demikian adalah dari sepenting-penting perbuatan.
(42 : 43)

وَمَن يُضْلِلِ ٱللَّهُ فَمَا لَهُۥ مِن وَلِىٍّۢ مِّنۢ بَعْدِهِۦ ۗ وَتَرَى ٱلظَّٰلِمِينَ لَمَّا رَأَوُا۟ ٱلْعَذَابَ يَقُولُونَ هَلْ إِلَىٰ مَرَدٍّۢ مِّن سَبِيلٍۢ
Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidaklah ada baginya pelindung selain Dia. Dan engkau lihat orang-orang yang zalim itu, tatkala mereka melihat azab, akan berkata: "Adakah kiranya jalan buat kembali?"
(42 : 44)

وَتَرَىٰهُمْ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا خَٰشِعِينَ مِنَ ٱلذُّلِّ يَنظُرُونَ مِن طَرْفٍ خَفِىٍّۢ ۗ وَقَالَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِنَّ ٱلْخَٰسِرِينَ ٱلَّذِينَ خَسِرُوٓا۟ أَنفُسَهُمْ وَأَهْلِيهِمْ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ ۗ أَلَآ إِنَّ ٱلظَّٰلِمِينَ فِى عَذَابٍۢ مُّقِيمٍۢ
Dan engkau lihat mereka dibawa kepadanya, dalam keadaan tunduk lantaran hina, sambil melihat dengan kerlingan yang tersembunyi. Dan berkata mereka yang beriman: "Sesungguhnya orang-orang yang rugi ialah yang merugikan diri mereka sendiri dan keluarga mereka di hari kiamat. Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang yang zalim adalah dalam azab yang kekal.
(42 : 45)

وَمَا كَانَ لَهُم مِّنْ أَوْلِيَآءَ يَنصُرُونَهُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ ۗ وَمَن يُضْلِلِ ٱللَّهُ فَمَا لَهُۥ مِن سَبِيلٍ
Dan tidaklah ada bagi mereka pelindung-pelindung yang akan menolong mereka selain Allah. Dan barangsiapa yang disesatkan ALlah, maka tidaklah ada bagi mereka satu jalanpun.
(42 : 46)

ٱسْتَجِيبُوا۟ لِرَبِّكُم مِّن قَبْلِ أَن يَأْتِىَ يَوْمٌۭ لَّا مَرَدَّ لَهُۥ مِنَ ٱللَّهِ ۚ مَا لَكُم مِّن مَّلْجَإٍۢ يَوْمَئِذٍۢ وَمَا لَكُم مِّن نَّكِيرٍۢ
Sambutlah (seruan) Tuhanmu. Sebelum datang dari Allah hari yang tak dapat ditolak. Tidak ada bagi kamu di hari itu tempat perlindungan dan tidak ada bagi kamu pengingkarinya.
(42 : 47)

فَإِنْ أَعْرَضُوا۟ فَمَآ أَرْسَلْنَٰكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا ۖ إِنْ عَلَيْكَ إِلَّا ٱلْبَلَٰغُ ۗ وَإِنَّآ إِذَآ أَذَقْنَا ٱلْإِنسَٰنَ مِنَّا رَحْمَةًۭ فَرِحَ بِهَا ۖ وَإِن تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌۢ بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ فَإِنَّ ٱلْإِنسَٰنَ كَفُورٌۭ
Tetapi jika mereka berpaling, maka tidaklah Kami utus engkau kepada mereka sebagai pengawal. Tidak ada kewajiban engkau melainkan menyampaikan. Dan sesungguhnya apabila Kami rasakan kepada manusia satu rahmat, giranglah mereka dengan dia. Dan jika Kami timpakan suatu kesusahan karena perbuatan tangan mereka sendiri, maka sesungguhnya manusia melupakan budi.
(42 : 48)

لِّلَّهِ مُلْكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۚ يَخْلُقُ مَا يَشَآءُ ۚ يَهَبُ لِمَن يَشَآءُ إِنَٰثًۭا وَيَهَبُ لِمَن يَشَآءُ ٱلذُّكُورَ
Bagi Allah milik semua langit dan bumi. Dijadikan-Nya apa yang dikehendakiNya. DiberiNya siapa yang Dia kehendaki anak-anak perempuan dan diberiNya siapa yang Dia kehendaki anak-anak laki-laki.
(42 : 49)

أَوْ يُزَوِّجُهُمْ ذُكْرَانًۭا وَإِنَٰثًۭا ۖ وَيَجْعَلُ مَن يَشَآءُ عَقِيمًا ۚ إِنَّهُۥ عَلِيمٌۭ قَدِيرٌۭ
Atau dikembarkanNya anak laki-laki dan anak-anak perempuan, dan dijadikanNya siapa yang Dia kehendaki, mandul. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mengetahui, Maha Kuasa.
(42 : 50)

(Petikan Tafsir Ayat 49-50) Masih menjadi pertanyaan: “Apakah benar, Tuhan mentaqdirkan bumi untuk tempat hidup manusia tidak menyediakan makanan cukup buat manusia?” Ahli agama telah menjawab dengan tegas: “Tidak! Itu tidak benar! Tuhan yang menguasai seluruh langit dan bumi, menyediakan cukup bahan sandang, dan bahan pangan untuk manusia yang lahir ke dunia”. Kalau itu tidak mencukupi, manusialah yang belum tahu di mana rahasianya. Sebab itu manusia wajib berusaha terus mencari di mana letak persediaan itu. Dan itu akan ditunjukkan Allah asal manusia tetap berusaha sebagaimana kemajuan-kemajuan yang dicapai sekarang ini, dalam perkembangan abad demi abad adalah atas petunjuk Allah jua. Namun satu hal hendaklah dielakkan, yaitu mencegah perkembangan manusia itu sendiri dengan kebebasan dengan kekerasan. – Prof Dr Hamka (Tafsir Al-Azhar (H. Abdul Karim), Juzu’ ke-25, m.s. 56)


وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَن يُكَلِّمَهُ ٱللَّهُ إِلَّا وَحْيًا أَوْ مِن وَرَآئِ حِجَابٍ أَوْ يُرْسِلَ رَسُولًۭا فَيُوحِىَ بِإِذْنِهِۦ مَا يَشَآءُ ۚ إِنَّهُۥ عَلِىٌّ حَكِيمٌۭ
Dan tidaklah terdapat bagi seorang manusiapun, bahwa Allah berkata-kata dengan dia, kecuali dengan wahyu atau dari belakang dinding atau dikirimNya utusan, lalu dia mewahyukan dengan izinnya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia adalah Maha Tinggi, Maha Bijaksana.
(42 : 51)

وَكَذَٰلِكَ أَوْحَيْنَآ إِلَيْكَ رُوحًۭا مِّنْ أَمْرِنَا ۚ مَا كُنتَ تَدْرِى مَا ٱلْكِتَٰبُ وَلَا ٱلْإِيمَٰنُ وَلَٰكِن جَعَلْنَٰهُ نُورًۭا نَّهْدِى بِهِۦ مَن نَّشَآءُ مِنْ عِبَادِنَا ۚ وَإِنَّكَ لَتَهْدِىٓ إِلَىٰ صِرَٰطٍۢ مُّسْتَقِيمٍۢ
Dan demikianlah Kami wahyukan kepada engkau satu Roh dari perintah Kami. Padahal tidaklah engkau tahu apa yang kitab dan tidak yang iman. Tetapi Kami jadikan dia Nur, yang Kami beri petunjuk dengan dia barangsiapa yang Kami kehendaki dari pada hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya engkau akan memimpin kepada jalan yang lurus.
(42 : 52)

صِرَٰطِ ٱللَّهِ ٱلَّذِى لَهُۥ مَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلْأَرْضِ ۗ أَلَآ إِلَى ٱللَّهِ تَصِيرُ ٱلْأُمُورُ
(Yaitu), jalan Allah, yang kepunyaanNyalah apa yang di semua langit dan apa yang ada di bumi. Ketahuilah! Kepada Allahlah akan sampai segala urusan.
(42 : 53)

Gambar: Ranau (Kinabalu), Sabah, Malaysia (Sumber: admin@bacaquran.net)