002 Al-Baqarah 255-262 (Live 1962)

Maka, kalau banyak kita dengar keterangan dari ahli-ahli agama bahwa kita selalu dianjurkan membaca ayat ini, yang dikenal dengan nama “Ayatul Kursi”, dapatlah kita memahami bahwa maksudnya ialah untuk menambah khusyu kita kepada  Allah dan untuk menambah kita berusaha  beribadah dengan langsung menghadapkan jiwa raga kepada-Nya, dengan tidak memakai syafaat dan perantaraan. Memang berpahala siapa yang membacanya dan memahamkan maksudnya sebab di dalamnya tersimpul  tauhid yang sedalam-dalamnya. Adapun kalau hanya dibaca-baca saja, untuk Obat sakit kepala, untuk menjadi azimat tangkal bahaya pianggang maka samalah artinya dengan kata pepatah “asing biduk kalang diletak”. – Prof Dr Hamka (Tafsir al-Azhar (PTS Jilid 1), m.s. 537)

ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلْحَىُّ ٱلْقَيُّومُ ۚ لَا تَأْخُذُهُۥ سِنَةٌۭ وَلَا نَوْمٌۭ ۚ لَّهُۥ مَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلْأَرْضِ ۗ مَن ذَا ٱلَّذِى يَشْفَعُ عِندَهُۥٓ إِلَّا بِإِذْنِهِۦ ۚ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَىْءٍۢ مِّنْ عِلْمِهِۦٓ إِلَّا بِمَا شَآءَ ۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ ۖ وَلَا يَـُٔودُهُۥ حِفْظُهُمَا ۚ وَهُوَ ٱلْعَلِىُّ ٱلْعَظِيمُ
Tuhan Allah tidak ada Tuhan melainkan Dia, Yang Hidup, Yang berdiri sendiri-Nya. Dia tidak dihampiri oleh kantuk dan tidak (pula) oleh tidur. Kepunyaan-Nya apa yang ada di semua langit dan apa yang di bumi. Siapa yang akan memohonkan syafaat di sisi-Nya kalau bukan dengan izin-Nya? Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka, sedang mereka tidaklah meliputi sesuatu jua pun dari ilmu-Nya, kecuali apa yang Dia kehendaki. Meliputi pengetahuan-Nya akan semua langit dan bumi, dan tidaklah memberati-Nya memeliharanya keduanya; dan Dia adalah Mahatinggi lagi Mahaagung.
(2 : 255)

لَآ إِكْرَاهَ فِى ٱلدِّينِ ۖ قَد تَّبَيَّنَ ٱلرُّشْدُ مِنَ ٱلْغَىِّ ۚ فَمَن يَكْفُرْ بِٱلطَّٰغُوتِ وَيُؤْمِنۢ بِٱللَّهِ فَقَدِ ٱسْتَمْسَكَ بِٱلْعُرْوَةِ ٱلْوُثْقَىٰ لَا ٱنفِصَامَ لَهَا ۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
Tidak ada paksaan dalam agama. Telah nyata kebenaran dan kesesatan. Maka, barangsiapa yang menolak segala pelanggaran besar dan beriman kepada Allah maka sesungguhnya telah berpeganglah dia dengan tali yang amat teguh, yang tidak akan putus selama-lamanya. Dan Allah adalah Maha Mendengar, lagi Mengetahui.
(2 : 256)

ٱللَّهُ وَلِىُّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ يُخْرِجُهُم مِّنَ ٱلظُّلُمَٰتِ إِلَى ٱلنُّورِ ۖ وَٱلَّذِينَ كَفَرُوٓا۟ أَوْلِيَآؤُهُمُ ٱلطَّٰغُوتُ يُخْرِجُونَهُم مِّنَ ٱلنُّورِ إِلَى ٱلظُّلُمَٰتِ ۗ أُو۟لَٰٓئِكَ أَصْحَٰبُ ٱلنَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَٰلِدُونَ
Allah-lah Pemimpin bagi orang-orang yang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari gelap gulita kepada terang benderang. Akan tetapi, orang-orang yang tidak mau percaya. Pemimpin mereka ialah pelanggar-pelanggar batas. Mereka itu akan mengeluarkan mereka dari cahaya terang kepada gelap gulita. Mereka itulah ahli neraka. Mereka akan kekal padanya.
(2 : 257)

أَلَمْ تَرَ إِلَى ٱلَّذِى حَآجَّ إِبْرَٰهِۦمَ فِى رَبِّهِۦٓ أَنْ ءَاتَىٰهُ ٱللَّهُ ٱلْمُلْكَ إِذْ قَالَ إِبْرَٰهِۦمُ رَبِّىَ ٱلَّذِى يُحْىِۦ وَيُمِيتُ قَالَ أَنَا۠ أُحْىِۦ وَأُمِيتُ ۖ قَالَ إِبْرَٰهِۦمُ فَإِنَّ ٱللَّهَ يَأْتِى بِٱلشَّمْسِ مِنَ ٱلْمَشْرِقِ فَأْتِ بِهَا مِنَ ٱلْمَغْرِبِ فَبُهِتَ ٱلَّذِى كَفَرَ ۗ وَٱللَّهُ لَا يَهْدِى ٱلْقَوْمَ ٱلظَّٰلِمِينَ
Atau tidakkah engkau pikirkan dari hal orang yang membantah Ibrahim tentang Tuhan-Nya? Lantaran Allah telah memberikan kerajaan kepadanya? Tatkala Ibrahim berkata, "Tuhankulah yang menghidupkan dan mematikan." Dia berkata, "Akulah yang menghidupkan dan mematikan." Berkata Ibrahim, "Maka sesungguhnya Allah mendatangkan matahari dari timur maka cobalah datangkan matahari itu dari barat!" Maka terdiamlah orang yang kafir itu. Dan, Allah tidaklah akan memberi petunjuk kepada kaum yang zalim!
(2 : 258)

أَوْ كَٱلَّذِى مَرَّ عَلَىٰ قَرْيَةٍۢ وَهِىَ خَاوِيَةٌ عَلَىٰ عُرُوشِهَا قَالَ أَنَّىٰ يُحْىِۦ هَٰذِهِ ٱللَّهُ بَعْدَ مَوْتِهَا ۖ فَأَمَاتَهُ ٱللَّهُ مِا۟ئَةَ عَامٍۢ ثُمَّ بَعَثَهُۥ ۖ قَالَ كَمْ لَبِثْتَ ۖ قَالَ لَبِثْتُ يَوْمًا أَوْ بَعْضَ يَوْمٍۢ ۖ قَالَ بَل لَّبِثْتَ مِا۟ئَةَ عَامٍۢ فَٱنظُرْ إِلَىٰ طَعَامِكَ وَشَرَابِكَ لَمْ يَتَسَنَّهْ ۖ وَٱنظُرْ إِلَىٰ حِمَارِكَ وَلِنَجْعَلَكَ ءَايَةًۭ لِّلنَّاسِ ۖ وَٱنظُرْ إِلَى ٱلْعِظَامِ كَيْفَ نُنشِزُهَا ثُمَّ نَكْسُوهَا لَحْمًۭا ۚ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُۥ قَالَ أَعْلَمُ أَنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍۢ قَدِيرٌۭ
Atau seperti seorang yang pernah melalui sebuah negeri, sedangkan negeri itu telah runtuh bangunan-bangunannya. Dia berkata, "Bagaimanakah agaknya kelak Allah akan menghidupkannya sesudah matinya?" Maka dimatikanlah dia oleh Allah seratus tahun, kemudian itu Dia bangkitkan kembali. Bertanya Dia, "Berapa lamanya engkau telah terdiam?" Dia menjawab, "Aku telah berdiam sehari atau sebagian hari." Berfirman Dia, "Bahkan engkau telah berdiam seratus tahun. Maka, lihatlah kepada makananmu dan minumanmu itu, tidaklah dia berubah. Dan, lihatlah kepada keledaimu! Dan oleh karena Kami hendak menjadikan engkau suatu tanda bagi manusia. Dan, lihatlah kepada tulang-tulang itu, betapa Kami membangkitkannya kembali, kemudian Kami pakaikan kepadanya daging." Maka tatkala telah jelas kepadanya, berkatalah dia, "Tahulah aku (sekarang) bahwasanya Allah atas tiap-tiap sesuatu adalah Mahakuasa."
(2 : 259)

وَإِذْ قَالَ إِبْرَٰهِۦمُ رَبِّ أَرِنِى كَيْفَ تُحْىِ ٱلْمَوْتَىٰ ۖ قَالَ أَوَلَمْ تُؤْمِن ۖ قَالَ بَلَىٰ وَلَٰكِن لِّيَطْمَئِنَّ قَلْبِى ۖ قَالَ فَخُذْ أَرْبَعَةًۭ مِّنَ ٱلطَّيْرِ فَصُرْهُنَّ إِلَيْكَ ثُمَّ ٱجْعَلْ عَلَىٰ كُلِّ جَبَلٍۢ مِّنْهُنَّ جُزْءًۭا ثُمَّ ٱدْعُهُنَّ يَأْتِينَكَ سَعْيًۭا ۚ وَٱعْلَمْ أَنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌۭ
Dan ingatlah tatkala berkata Ibrahim, "Ya, Tuhanku! Perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang yang telah mati." Berfirman Dia, "Apakah engkau tidak percaya?" Berkata dia, "Sekali-kali bukan begitu, tetapi untuk menetapkan hatiku." Berfirman Dia, "Kalau begitu, ambillah empat ekor burung dan jinakkanlah dia kepada dirimu kemudian letakkanlah di atas tiap-tiap gunung darinya sebagian-sebagian, kemudian itu panggillah mereka, niscaya mereka akan datang kepada engkau dengan segera." Dan ketahuilah bahwasanya Allah adalah Mahagagah, lagi Mahabijaksana!
(2 : 260)

مَّثَلُ ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَٰلَهُمْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِى كُلِّ سُنۢبُلَةٍۢ مِّا۟ئَةُ حَبَّةٍۢ ۗ وَٱللَّهُ يُضَٰعِفُ لِمَن يَشَآءُ ۗ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ
Perumpamaan orang-orang yang membelanjakan harta benda mereka pada jalan Allah adalah laksana satu biji menumbuhkan tujuh arai; pada tiap-tiap satu arai ada seratus biji. Dan, Allah akan menggandakan (pahala) kepada barangsiapa yang dikehendaki-Nya dan Allah adalah Mahaluas, lagi Mengetahui.
(2 : 261)

ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَٰلَهُمْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ ثُمَّ لَا يُتْبِعُونَ مَآ أَنفَقُوا۟ مَنًّۭا وَلَآ أَذًۭى ۙ لَّهُمْ أَجْرُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
Orang-orang yang membelanjakan harta benda mereka pada jalan Allah kemudian itu tidak mereka iringkan apa yang telah mereka belanjakan itu dengan membangkit-bangkit dan tidak dengan menyakiti; untuk mereka pahala di Sisi Tuhan mereka, dan tidak ada ketakutan atas mereka dan tidaklah mereka akan berduka cita.
(2 : 262)

Sumber rakaman: “abuhemmo”
Gambar hiasan: Armant – pekan kelahiran qari Syeikh Abdul Basit (Sumber: Wikimedia)